RSS
email

Gadis Bermata Segaris

Gadis Bermata Segaris

Bening. Seperti embun yang turun saat pagi hari musim kemarau. Menatap kedalam matanya seperti menyelami magisnya Ranukumbolo. Tatapannya tajam. Menusuk sampai ke kedalaman hati. Pandangannya tenang, setenang langit yang disinggahi burung camar di kala sore. Tapi tak ada yang lebih ku ingat selain saat dia sedang tersenyum. Matanya akan bersembunyi di balik kelopak. Sedikit mengintip diantara celahnya. Seperti garis yang memisahkan langit dan hamparan bumi di ujung horison. Gadis yang bermata segaris. Begitu aku sering menggodanya.

Masih melekat dalam benakku saat pertama kali aku menemukan matanya. Melihatku nampak kebingungan di tempatnya menyelesaikan tugas, dia memutuskan untuk bertanya padaku. Menyelamatkan pikiranku yang sedang tersesat dalam lamunan. Untuk kemudian membuatku tersesat dalam sorot matanya. Ya. Sorot matanya itu seperti panah yang melesat cepat dari busurnya. Tepat mendarat di mataku. Sejak saat itu aku ingin menetap di matanya.

Butuh waktu lama untuk menyadari bagaimana rasa itu tumbuh dalam hati. Aku baru menyadarinya ketika aku tak bisa lagi mencuri-curi pandang ke arah matanya, lalu kemudian asyik menekuni beningnya. Jarak dan kesempatan telah memisahkan kita. Tapi tak begitu dengan rasa yang sudah terlanjur tumbuh dalam hati. Ianya membesar. Memenuhi rongga-rongga hati, menulusup dalam sudut-sudut jiwa, dan kemudian mewujud dalam mimpi-mimpi. 

---

Hari ini tiba, Dimana akhirnya aku memberanikan diri melakukan perjalanan. Perjalanan mengunjungi matanya. Ku rapikan perasaan. Ku kemasi mimpi-mimpi. Supaya nanti saat kutemukan lagi tatapannya dapat kuperlihatkan bagaimana lukisan rasa dan pemandangan mimpi. Aku ingin melihat garis horison yang menjelma dalam garis matanya saat tersenyum. Lamunan membawaku jauh tenggelam.

Kereta yang mengantarku semakin dekat dengan tujuan. Hatiku terasa bergetar. Kakiku serasa kaku. Bagaimana jika tak ku temukan lagi tatapan itu? Bagaimana jika dia tak mau melihat rasa dan mimpi yang sudah kubungkus rapi? Aku seperti ingin memutar arah kereta ini. Aku tak siap. Aku tak siap jika akhirnya kenyataan tak semanis bayanganku.

Akhirnya aku berdoa. Ya aku merasa ini semua di luar kuasaku. Rasa ini. Mimpi ini. Bukanlah sesuatu yang bisa aku pilih kapan berbenih dan kapan bertumbuh. Maka akhirnya aku memasrahkan semuanya di dalam doa. Semoga jalan meniti rasa dan mimpi ini menemukan pemberhentian terbaik.

---

Orang-orang mulai merapikan barangnya. Beberapa sudah berdiri mendekat ke pintu keluar. Kereta berjalan semakin lambat. Tujuan akhir kereta ini sudah dekat. Banyak wajah memasang senyum, beberapa wajah nampak tergesa, beberapa lainnya menampilkan haru. Aku berbeda. Nampak jelas wajahku terlihat tergesa untuk kemudian diselingi senyum dan lalu tiba-tiba haru. Mencerminkan hatiku yang tak menentu.

---

Aku berjalan keluar stasiun. Dengan rasa harap dan takut. Takut jika dia tiba-tiba tak jadi datang, tapi dalam hati juga berharap dia sudah datang menunggu. Pandanganku menyusuri ke arah para penjemput yang berdiri berdesakan di luar stasiun. Sepertinya tidak ada. Aku hampir berjalan lagi ketika teriakan itu tiba-tiba mengagetkanku. Aku yang berpaling menemukannya berlari-lari kecil mendekatiku. Akhirnya dia tiba di depanku. Melempar senyum dan kemudian menatapku dengan tatapannya. Oh tidak aku sepertinya benar-benar tersesat dalam matanya...



MH Rofik
Rawamangun, 15 Juli 2015

Cerita hanyalah fiktif belaka, kesamaan kejadian dan adegan merupakan kesengajaan *eh ketidaksengajaan..

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Sepatah komentar anda sangat bermanfaat bagi saya. *senyum lima belas centi*

 

Terjaga itu

tukeran link

copy paste kode di bawah ini

<a target="blank" href="http://terjaga.blogspot.com"><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss191/terjaga/terjagastar2-1.jpg"></a>

Pengikut

networkedblog