RSS
email
0

Gadis Bermata Segaris

Gadis Bermata Segaris

Bening. Seperti embun yang turun saat pagi hari musim kemarau. Menatap kedalam matanya seperti menyelami magisnya Ranukumbolo. Tatapannya tajam. Menusuk sampai ke kedalaman hati. Pandangannya tenang, setenang langit yang disinggahi burung camar di kala sore. Tapi tak ada yang lebih ku ingat selain saat dia sedang tersenyum. Matanya akan bersembunyi di balik kelopak. Sedikit mengintip diantara celahnya. Seperti garis yang memisahkan langit dan hamparan bumi di ujung horison. Gadis yang bermata segaris. Begitu aku sering menggodanya.

Masih melekat dalam benakku saat pertama kali aku menemukan matanya. Melihatku nampak kebingungan di tempatnya menyelesaikan tugas, dia memutuskan untuk bertanya padaku. Menyelamatkan pikiranku yang sedang tersesat dalam lamunan. Untuk kemudian membuatku tersesat dalam sorot matanya. Ya. Sorot matanya itu seperti panah yang melesat cepat dari busurnya. Tepat mendarat di mataku. Sejak saat itu aku ingin menetap di matanya.

Butuh waktu lama untuk menyadari bagaimana rasa itu tumbuh dalam hati. Aku baru menyadarinya ketika aku tak bisa lagi mencuri-curi pandang ke arah matanya, lalu kemudian asyik menekuni beningnya. Jarak dan kesempatan telah memisahkan kita. Tapi tak begitu dengan rasa yang sudah terlanjur tumbuh dalam hati. Ianya membesar. Memenuhi rongga-rongga hati, menulusup dalam sudut-sudut jiwa, dan kemudian mewujud dalam mimpi-mimpi. 

---

Hari ini tiba, Dimana akhirnya aku memberanikan diri melakukan perjalanan. Perjalanan mengunjungi matanya. Ku rapikan perasaan. Ku kemasi mimpi-mimpi. Supaya nanti saat kutemukan lagi tatapannya dapat kuperlihatkan bagaimana lukisan rasa dan pemandangan mimpi. Aku ingin melihat garis horison yang menjelma dalam garis matanya saat tersenyum. Lamunan membawaku jauh tenggelam.

Kereta yang mengantarku semakin dekat dengan tujuan. Hatiku terasa bergetar. Kakiku serasa kaku. Bagaimana jika tak ku temukan lagi tatapan itu? Bagaimana jika dia tak mau melihat rasa dan mimpi yang sudah kubungkus rapi? Aku seperti ingin memutar arah kereta ini. Aku tak siap. Aku tak siap jika akhirnya kenyataan tak semanis bayanganku.

Akhirnya aku berdoa. Ya aku merasa ini semua di luar kuasaku. Rasa ini. Mimpi ini. Bukanlah sesuatu yang bisa aku pilih kapan berbenih dan kapan bertumbuh. Maka akhirnya aku memasrahkan semuanya di dalam doa. Semoga jalan meniti rasa dan mimpi ini menemukan pemberhentian terbaik.

---

Orang-orang mulai merapikan barangnya. Beberapa sudah berdiri mendekat ke pintu keluar. Kereta berjalan semakin lambat. Tujuan akhir kereta ini sudah dekat. Banyak wajah memasang senyum, beberapa wajah nampak tergesa, beberapa lainnya menampilkan haru. Aku berbeda. Nampak jelas wajahku terlihat tergesa untuk kemudian diselingi senyum dan lalu tiba-tiba haru. Mencerminkan hatiku yang tak menentu.

---

Aku berjalan keluar stasiun. Dengan rasa harap dan takut. Takut jika dia tiba-tiba tak jadi datang, tapi dalam hati juga berharap dia sudah datang menunggu. Pandanganku menyusuri ke arah para penjemput yang berdiri berdesakan di luar stasiun. Sepertinya tidak ada. Aku hampir berjalan lagi ketika teriakan itu tiba-tiba mengagetkanku. Aku yang berpaling menemukannya berlari-lari kecil mendekatiku. Akhirnya dia tiba di depanku. Melempar senyum dan kemudian menatapku dengan tatapannya. Oh tidak aku sepertinya benar-benar tersesat dalam matanya...



MH Rofik
Rawamangun, 15 Juli 2015

Cerita hanyalah fiktif belaka, kesamaan kejadian dan adegan merupakan kesengajaan *eh ketidaksengajaan..
Read more
1

Trip to Kalibiru

Akhirnya bisa juga ke kalibiru..



Read more
0

Jalan-jalan ke Pantai Sundak

Minggu pertama PKL hampir usai. Rasanya sudah lama sejak terakhir beraktivitas penuh hampir sepanjang hari selama seminggu. Dan rutinitas itu membuat badan seperti tak mau lepas dari kasur yang nyaman ini. Tapi pikiran kembali mengingatkan kalau sungguh merugi kalau berada di kota ini dan hanya dilewatkan dengan bermalas-malasan. Akhirnya aku bangun juga.

Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek anggota seper-PKL-an. Mereka juga hanya bermalas-malasan tidak seperti yang kami rencanakan kemarin untuk berangkat jalan-jalan. Akhirnya dengan sedikit dorongan dan bujuk rayu, akhirnya berhasil terbujuklah mereka untuk setidaknya bangun dan pergi sarapan. Kami sarapan di sunmor (sunday morning) Jogja, tepatnya di UGM. Meskipun kami datang termasuk kesiangan tapi sunmor masih ramai akan pengunjung. Banyak penjual yang menjajakan beraneka macam barang. Dari baju, aksesoris sampai kaos kaki. Banyak juga penjual makanan. Setelah menikmati sarapan di sunmor kami bergegas ke kosan teman per-PKL-an yg lain. Teman-teman inilah yang kemarin hari mengajak kami jalan-jalan ke pantai.

Sesampainya di kosan mereka ternyata mereka malah belum siap dan belum sarapan. -_- ckckck. Dan akhirnya setelah persiapan yang panjang serta obrolan yang lama, akhirnya kami berangkat juga. Tujuan kami adalah Pantai Sundak, tepatnya di kabupaten Kulonprogo.

Pantai Sundak, berada sekitar .... km dari pusat kota Jogja. Perjalanan bisa ditempuh sekitar Kami berangkat menggunakan mobil salah satu teman kami.Saat kami berangkat sudah termasuk siang, sekitar jam 11. Cuaca sedikit panas dengan banyak awan putih yang bermain di latar biru langit. 

Trip to Pantai Sundak

Read more
1

Gadis yang Menunggu di Garis Finish


Gadis yang Menunggu di Garis Finish

Apa yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali ku mengingatmu
Seakan bisa merasakan
getaran jantung dan langkah kakimu


Tolol. Mungkin itu yang bisa disematkan padaku sekarang. Semakin sering aku melewati tempat ini di waktu yang sama dengan rutinitas yang sama, memandangi lama-lama air mancur itu. Menelusuri sepintas pandangan disekelilingnya. Barangkali bisa kutemukan lagi. Tidak ada. Mungkin diputaran berikutnya. Kuseimbangkan lagi langkahku, aku tak mau merusak pace-ku.


---

Masih tergambar jelas di pikiranku kejadian di hari itu. Sebulan yang lalu. Pagi itu aku tidak ada niatan untuk lari sebenarnya, kasur dan fakta bahwa hari itu libur membuatku tak ingin beranjak dari kamar. Tapi obrolan di group chat membuatku merasa sepertinya membosankan jika pagi ini hanya dilewati hanya dengan bermalas-malasan.

Pagi itu matahari masih malu-malu bercahaya, sinarnya yang lembut menerobos melewati dedaunan seperti anak-anak kecil berlarian mendengar bel pulang sekolah. Kelip-kelip ceria. Udara seperti baru dilewati gerimis. Segar. Aku menghadap matahari sembari mengangkat kedua tangan. Kuterima cahayanya satu-satu menyentuhku dengan lembut. Ku pejamkan mata dan ku hirup nafas dalam-dalam. Ritualku menyambut pagi. Menyapa matahari.

---

Ku tambatkan sepedaku di tempat parkir. Kampus ini cukup menyediakan banyak tempat untuk memarkir sepeda meski sekarang sepertinya mulai terasa kurang karena banyaknya mahasiswa yang memakai sepeda. Aku mengunci sepedaku. Sedikit melakukan gerakan pemanasan kemudian menyiapkan playlist. Tak lupa menyalakan aplikasi lari.

Sebenarnya aku suka berlari. Sudah beberapa kali aku ikut perlombaan. Meskipun tak pernah benar-benar memenangkannya. Lari selalu memberikan sensasi yang unik. Lari seperti membawa kita mengikuti waktu dengan kecepatan yang berbeda. Seperti kita memahami dunia dengan kecepatan berbeda. Bergerak bersama dunia. Ikut berputar bersama dunia.

Suasana cukup ramai, mungkin karena ajakan-ajakan di grup. Ada yang lari bersama rombongan, banyak pula yang lari sendiri. Tak sedikit pula lansia yang hanya berjalan. Semua bergerak dengan tujuan masing-masing. Entah untuk berolahraga, pengobatan atau mungkin hanya seperti aku, tak ingin mengisi waktu pagi dengan bermalas-malasan.

Aku dibesarkan dengan banyak berlari. Mengejar layangan jatuh, mengejar bus ke sekolah, mengejar gerbang sekolah yang hendak ditutup, mengejar matahari terbit. Iya sepertinya aku banyak mengejar. Tetapi hari ini aku berlari tanpa sesuatu pun yang ingin ku kejar. Aku hanya ingin berlari menikmati ritme langkah yang semakin lama semakin tak terasa. Menikmati ritme nafas yang semakin lama semakin menyentak-nyentak dada. Dan kemudian tenggelam dalam ritme jantung yang cepat berdetak.

Tapi hari itu bukan berlari yang membuat jantungku berdetak cepat, bukan berlari yang menjadikan nafasku tersentak. Bukan pula berlari yang menjadikan langkahku seperti tak berasa. Menapak awan. Ya masih jelas dalam ingatanku bagaimana aku melihatmu untuk pertama kali. Senyuman itu, senyuman yang mengacaukan ritmeku. Wajah yang seperti disinggahi cahaya bulan, meneduhkan. Senyum yang tersungging seperti pelangi, keindahan. Dan derai rambut yang ikut menari-nari bersama angin pagi, melenakan. Gemericik air mancur seperti melodi yang menyatukan keindahanmu dalam sebuah gubahan lagu. Lagu tentang rasa yang tak tertahankan. Lagu tentang seorang perindu yang pertama kali melihat kekasihnya.

Bodohnya, aku tak tahu harus berbuat apa. Seperti hilang kendali, aku terus berlari dan tersadar ketika aku sudah terlalu jauh meninggalkannya dibelakang. Ah tentu saja, ini adalah putaran. Aku akan menjumpainya di putaran selanjutnya. Maka tanpa sadar langkahku semakin cepat. Dengan seketika sampai lagi aku dimana dia ada. Kamu masih ada, sedang memainkan senyummu. Memandangi gemericik air sambil memikirkan entah. Lagi-lagi aku tak kuasa mengatur tubuhku. Aku terus berlari sampai kemudian sudah kembali jauh. Ku percepat lagi langkahku berharap menemukanmu lagi di putaran selanjutnya. Tak ada. Tak kutemukan kamu dimana-mana.

---

Hari ini seperti puluhan kali sebelumnya aku berlari di tempat ini lagi sejak hari itu. Sebagian aku sudah tak terlalu berharap menemukanmu disitu. Perasaan untuk terus berlari ini sudah cukup untukku. Paling tidak aku kini tahu garis finishku belumlah terlihat. Belum saatnya berhenti. Paling tidak sekarang kini aku punya sesuatu untuk dikejar. Sebagian aku masih tenggelam dalam harapan. Ya kamu seperti mata air yang menimbulkan banyak harapan. Harapan suatu saat bisa melihat lagi senyuman dan teduh wajahmu, harapan untuk mengenalmu, atau harapan suatu saat nanti ada kamu yang akan menungguku di garis finish. Menyiapkan handuk dan minuman dingin. Atau kamu juga suka berlari? Entahlah. Harapan-harapanku tumbuh subur seperti jamur dimusim hujan. Aku tersenyum sambil berlari.

Lamunanku terhenti. Tunggu. Siapa itu yang duduk mesra berdua di pinggir air mancur.


MH Rofik
Bintaro, November 2014

Cerita hanyalah fiktif belaka, kesamaan kejadian dan adegan merupakan kesengajaan *eh ketidaksengajaan..
Read more
 

Terjaga itu

tukeran link

copy paste kode di bawah ini

<a target="blank" href="http://terjaga.blogspot.com"><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss191/terjaga/terjagastar2-1.jpg"></a>

Pengikut

networkedblog